Obat Vulvitis – Tanda Gejala dan Faktor Penyebabnya

Obat Vulvitis – Tanda Gejala dan Faktor Penyebabnya Hai sobat herbalku, selamat datang di situs jamuobat.com. Kami menyediakan beragam macam informasi seputar kesehatan. Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas sebuah informasi mengenai Obat Vulvitis – Tanda Gejala dan Faktor Penyebab.

Tahukah kalian bahwa seiring waktu berjalan dan kehidupan yang mulai berubah ini sering membuat tubuh menjadi lemah akibat kepadatan rutinitas. Nah, yang perlu diketahui dan perlu disadari oleh kalian khususnya para wanita. Mungkin akhir-akhir ini masalah kesehatan sering muncul pada kalian, terutama pada organ reproduksi/kewaniataan kalian. Salah satu penyakit tersebut adalah vulvitis. Nah, apakah kalian tahu apa itu vulvitis? Bagi yang belum tahu mari simak ulasan mengenai obat vulvitis ini!!!

Obat Vulvitis - Tanda Gejala dan Faktor Penyebabnya

Obat Vulvitis – Tanda Gejala dan Faktor Penyebabnya

Vulvitis merupakan suatu kondisi terjadinya peradangan pada organ luar kelamin wanita atau vulva. Vulva sendiri merupakan clitoris, labia dan atau pintu masuk ke vagina. Wanita pada masa postmanopause dan anak perempuan yang belum mengalami masa pubertas memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalaminya.

Pada usia tersebut kadar hormon estrogen yang dimiliki wanita lebih rendah. Kondisi ini pun dapat menyebabkan jaringan vulva menjadi lebih kering dan lebih tipis. Hal ini juga dapat menyebabkannya lebih mudah untuk terserang penyakit seperti vulvitis ini. Selain itu suhu pada daerah vulva pun selalu lembab dan hangat. Nah, kondisi ini pun dapat  menyebabkan kulit vulva lebih rentan mengalami iritasi yang dapat menyebabkan vulvitis.

Nah, untuk mengatasi vulvitis, beberapa dokter mungkin akan menganjurkan obat vulvitis berupa krim atau salep untuk mengobati gejala yang ditimbulkanya.

Tanda Gejala

Dari yang diketahui gejala yang ditimbulkan akibat vulvitis ini dapat berbeda-beda, tergantung penyebab peradangan yang terjadi pada vulva. Namun, gejala yang paling umum adalah adanya cairan yang keluar dari dalam vagina, cairan tersebut merupakan cairan abnormal. Dikatakan demikian karena jumlah cairan yang keluar memiliki voleme yang lebih banyak dan mengeluarkan bau tak sedap. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan rasa gatal dan terkadang sedikit terasa nyeri.

Nah, jika muncul rasa gatal, disarankan untuk tidak menggaruk alat kelamin. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya iritasi agar tidak berkembang menjadi infeksi.

Gejala-gejala lain yang dapat ditimbulkan akibat vulvitis ini antara lain :

  • rasa seperti terbakar pada daerah vulva dan sekitarnya,
  • rasa yang sangat gatal di pada alat kelamin, terutama pada malam hari,
  • kulit pecah-pecah pada bagian di sekitar vulva,
  • kulit bersisik dan area putih menebal pada vulva,
  • keputihan yang abnormal,
  • benjolan berisi cairan pada vulva,
  • bengkak dan merap pada vulva atau labia.

Catatan : gejala-gejala di atas mungkin juga dapat disebabkan oleh penyakit lain selain disebabkan oleh vulvitis. Oleh karena itu, konsultasikan terlebih dahulu pada dokter yang bersangkutan jika Anda mengalami sejumlah gejala tersebut agar penangan dan obat vulvitis yang diberikan tepat.

Faktor Penyebab Vulvitis

Terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan vulva mengalami peradangan, diantaranya :

  • Iritasi : iritasi yang ditimbulkan pada vulva ini dapat disebabkan oleh beberapa produk rumah tangga diantaranya adalah sabun mandi, sampo, kondisioner yang mengadung parfum, bedak, deodoran, tisu toilet, semprotan organ intin, dll. Selain itu iritasi yang terjadi pada vulva juga dapat disebabkan setelah berenang atau berendam di fasilatas umum, berkuda dan bersepeda.
  • Infeksi : selain vagina, vulva juga dapat rentan terkena infeksi bakteri, jamur, virus seperti herpes genital, jamur candida, infeksi HPV, skabies dan kutu kemaluan.
  • Rendahnya hormon estrogen : peradangan yang terjadi pada vulva juga sering dikaitkan dengan kadar estrogen yang rendah. Kadar estrogen yang rendah dapat menyebabkan vagina atau vulva lebih kering dan lebih tipis, sehingga mudah terkena iritasi atau penyakit seperti vulvitis.
  • Penyakit kulit : Selain itu beberapa penyakit kulit seperti psoriasis, lichen planus, dan licen sclerosus juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan vulva.
  • Vulvodynia : vulvodynia ini merupakan suatu penyakit yang dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan nyeri seperti tersengat atau terbakar yang dapat bersifat kronis pada vulva atau pun vagina, tanpa ada gejala atau penyebab yang jelas.
  • Kanker Vulva : kanker vulva ini lebih rentan terjadi pada wanita berusia di atas 60 tahun, namun kanker ini jarang terjadi. Gejala awal pada kanker ini adalah adanya luka atau benjolan pada vulva.

Beberapa penyebab vulvitis ini dapat segera ditangani dengan perawatan atau pemberian obat vulvitis yang tepat dan sesuai.

Komplikasi Vulvitis

Jika vulvitis ini dapat ditangani atau diobati dengan tepat, maka vulvitis ini dapat disembuhkan dan sebaliknya jika vulvitis ini tidak mendapat penanganan dan dibiarkan atau disepelekan begitu saja maka hal ini dapat menyebabkan komplikasi seperti organ intim terasa gatal pada malam hari yang dapat menyebabkan kualitas hidup terganggu dikarekanan gangguan tidur yang dialami ketika gejala tersebut muncul. Selain itu penyebab vulvitis yang tidak terdeteksi dapat berakibat fatal seperti terjadinya kanker vulva.

Untuk membantu mencegah dan mengobati vulvitis ini terdapat beberapa obat vulvitis yang mungkin dapat disarankan oleh dokter, oleh karena itu Anda dapat mengkonsultasikannya terlebih dahulu pada dokter yang bersangkutan.

Pengobatan Vulvitis

Dalam membantu pengobatan vulvitis dapat dilakukan tergantung dengan kondisi penyebabnya. Jika vulvitis yang terjadi disebabkan oleh infeksi, pengobatan yang mungkin diberikan dan langkah yang paling tepat adalah dengan pemakaian obat vulvitis seperti antibiotik atau antijamur.

Untuk membantu mengurangi rasa gatal dan iritasi yang terjadi pada vulva biasanya dokter akan menganjurkan salep kortikosteroid untuk pemakaian beberapa kali sehari. Selain itu tablet antihistamin dan krim emolien juga dapat digunakan untuk mengurangi rasa gatal yang muncul akibat vulvitis ini.

Jika vulvitis yang terjadi disebabkan akibat rendahnya hormon estrogen, biasanya dokter akan menyarankan pemakaian krim, tablet vagina atau pessarium yang mengandung hormon estrogen. Selain itu bagi wanita yang mengalami vulvodynia krim anestesi atau tindakan operasi juga dapat disarankan oleh dokter sebagai bentuk penanganan.

Pencegahan Vulvitis

Nah, selain cara pengobatan diatas, mungkin langkah-langkah berikut dapat Anda terapkan untuk membantu mencegah terjadinya vulvitis dan untuk mempercepat penyembuhan vulvitis :

  • segera mengganti pakaian dan celana dalam yang basah setelah berolahraga atau berenang,
  • segera menghentikan kebiasaan yang dapat menyebabkan iritasi seperti memakai pakaian yang terlalu ketat,
  • bersihkan organ intim sehari sekali dengan air hangat,
  • hindari mencuci organ intim dengan sabun atau cairan yang menggunakan parfum,
  • hindari penggunaan kondom yang dilumasi dengan spermisida.

Perlu diingat bentuk pengobatan vulvitis ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti usia, riwayat kesehatan, gejala dan penyebab penyakit, serta toleransi terhadap penggunaan obat-obat tertentu. Untuk mendapatkan pengobatan yang tepat ada baiknya konsultasikan pada dokter yang bersangkutan jika Anda mengalami gejala vulvitis tersebut agar obat vulvitis yang diberikan tepat.